MANGGARAI, AntarNews.net- Pelakasanaan Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA) XXXIII Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), tercoreng oleh orang yang tak bertanggung jawab.
Dalam press release yang diterima AntarNews.net, pada Sabtu, 25 Juli 2026, Dewan Pengurus Cabang Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia Cabang Jakarta Pusat mengecam keras aksi kekerasan dan premanisme yang terjadi di arena Kongres dan Musyawarah Permusyawaratan Anggota (MPA).
Aksi tak terpuji tersebut menimpa Ketua Presidium PMKRI Cabang Jakarta Pusat, Yohanes Jonianus Taek, yang menjadi korban pengeroyokan oleh oknum-oknum delegasi dari PMKRI
Cabang Kupang dan PMKRI Cabang Kefa.
Peristiwa bermula saat forum Agenda sidang komisi berlangsung alot terkait perbedaan pandangan antar dua kubu delegasi.
Pada saat itu Ketua Presidium PMKRI Cabang Jakarta Pusat meminta
bicara untuk memberikan solusi, lalu kesempatan diberikan oleh pimpinan sidang.
Namun sebelum selesai berbicara untuk memberikan solusi, korban langsung dihampiri oleh delegasi PMKRI cabang Kupang dan Delegasi PMKRI Cabang Kefa kemudian korban langsung dipukul dan dihantam menggunakan kursi oleh oknum delegasi hingga mengalami luka sobek pada bagian dahi.
Akibat kejadian tersebut, korban harus mendapatkan perawatan intensif di RSUD Ruteng dan mendapat 5 jahitan pada luka di dahi.
Setelah menjalani perawatan, Delegasi PMKRI Cabang Jakarta Pusat yang didampingi oleh Alumni dan Dewan Pertimbangan DPC PMKRI Cabang Jakarta Pusat secara resmi melaporkan kejadian tersebut ke Polres Manggarai pada hari Jumat, 24 Juli 2026 dini hari.
Menanggapi hal ini, Dewan Pertimbangan PMKRI Cabang Jakarta Pusat periode 2026/2027, Eleonarius Dawa, yang kerap di sapa Errizmo menyatakan bahwa tindakan kekerasan tersebut merupakan bentuk kegagalan dalam berproses dan berorganisasi yang jelas-jelas sangat bertentangan dengan semangat dan nilai-nilai “Tiga Benang Merah” PMKRI, yaitu : Fraternitas,
Kristianitas dan Intelektualitas.
“Dinamika perbedaan pendapat di forum Kongres dan MPA adalah hal yang wajar dan merupakan
bagian dari proses kaderisasi. Namun aksi premanisme yang berujung pada kekerasan fisik ini tidak dapat kami tolerir. Apalagi korban adalah Ketua Presidium Cabang Jakarta Pusat, yang merupakan simbol dan marwah PMKRI cabang jakarta pusat sebagai salah satu Cabang Pendiri PMKRI,” tegasnya.
Sementara informasi yang diperoleh media ini bahwa, kekacauan tersebut terjadi bermula setelah salah satu yang diduga alumni PMKRI masuk dalam ruangan rapat dalam keadaan mabuk miras.
Menurut sumber terpercaya kepada media ini menyebutkan alumni PMKRI tersebut mengeluarkan kata-kata kotor serta membentak panitia MPA dengan menyebutkan “PMKRI Ruteng itu hebatnya apa seharusnya kalian itu harus tunduk kepada PMKRI Kupang”.
Mulai saat itu situasinya semakin memanas dan terjadilah baku pukul antara peserta sidang dalam ruangan rapat.






































