MANGGARAI TIMUR, AntarNews.net- Masyarakat Kabupaten Manggarai Timur kembali dihebohkan dengan meninggalnya seorang pasien, Selviana Tijung, asal Desa Satar Punda Barat, setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Borong.
Kematian Selviana menjadi sorotan setelah sang suami, Petrus Forier Insano, mengungkap dugaan adanya kejanggalan dalam penanganan medis terhadap istrinya.
Petrus menyebut istrinya sebelumnya dirujuk dari Puskesmas Dampek ke RSUD Borong untuk mendapatkan tindakan operasi Caesar.
Keterangan tersebut disampaikan Petrus kepada wartawan melalui rekaman video yang beredar pada Senin (31/08/2026).
Petrus menuturkan, sebelum dibawa ke RSUD Borong, istrinya terlebih dahulu diperiksa di Puskesmas Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara, berdasarkan arahan seorang bidan yang bertugas di kampung mereka.
“Kami ikuti perintah atau arahan dari ibu bidan di sini untuk melakukan pemeriksaan di Dampek,” kata Petrus.
Setelah menjalani pemeriksaan di Puskesmas Dampek, Petrus mengatakan, dokter menyampaikan bahwa kondisi air ketuban istrinya telah habis. Atas kondisi tersebut, pihak Puskesmas kemudian mengeluarkan surat rujukan ke RSUD Borong.
Menurut Petrus, rujukan tersebut ditujukan agar istrinya segera mendapatkan tindakan operasi.
“Dokter di Dampek rujuk ke RSUD Borong untuk segera melakukan operasi,” ujarnya.
Setibanya di RSUD Borong, Selviana langsung dibawa ke ruang Instalasi Gawat Darurat (UGD). Namun, menurut Petrus, tindakan yang diberikan tidak sesuai dengan harapan keluarga berdasarkan rujukan dari Puskesmas Dampek.
Petrus mengaku istrinya justru diberikan suntikan obat perangsang. Ia menduga obat tersebut diberikan untuk merangsang persalinan secara normal.
“Tapi malah disuntik obat perangsang. Saya berpikir bahwa suntik obat perangsang ini untuk memaksa istri saya untuk melahirkan secara normal,” ungkapnya.
Petrus kemudian mengklaim bahwa istrinya hanya terbaring selama tiga hari tanpa tindakan operasi yang diharapkan. Selama menjalani perawatan, Selviana disebut terus mengeluhkan rasa sakit.
Namun, menurut Petrus, keluhan tersebut tidak mendapatkan respons sebagaimana yang diharapkan keluarga.
“Dia sudah baring selama tiga hari. Dia baring terus. Bahkan mereka memaksa juga sampai bengkak saluran kencing,” katanya.
Petrus mengaku bingung dengan keputusan untuk memberikan obat perangsang persalinan, terlebih karena sebelumnya dokter di Puskesmas Dampek menyebut kondisi air ketuban istrinya telah habis.
“Keluhan saya mereka tidak pernah respons. Mereka jawab tunggu dan tunggu karena sudah suntik obat perangsang. Sementara air ketuban sudah kering, mau paksa bagaimana lagi untuk melahirkan secara normal, saya juga tidak mengerti,” tambahnya.
Kondisi tersebut, menurut Petrus, terus berlangsung hingga akhirnya istrinya meninggal dunia.
Ia juga mengungkapkan adanya hal yang menurutnya janggal setelah istrinya dinyatakan meninggal. Petrus mengaku mendapat informasi dari petugas bahwa istrinya mengalami pendarahan.
Pernyataan tersebut kemudian dipertanyakan Petrus karena dirinya mengaku tidak melihat tanda-tanda pendarahan sebagaimana yang disampaikan petugas.
“Saya langsung tanya ke mereka, kalau betul dia pendarahan, kenapa tidak ada tanda-tanda keluarnya? Kalau pendarahan betul mana buktinya? Kan tidak ada buktinya setelah saya cek,” jelasnya.






































