MANGGARAI TIMUR, AntarNews.net– Penanganan korban gempa bumi Flores tidak hanya membutuhkan bantuan logistik dan kebutuhan dasar. Pemulihan kondisi psikologis masyarakat yang terdampak juga menjadi perhatian penting dalam proses pemulihan pascabencana.
Hal tersebut menjadi salah satu fokus Pemuda Katolik Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengerahkan puluhan relawan untuk terlibat dalam kegiatan kemanusiaan di wilayah terdampak gempa, khususnya Kabupaten Manggarai Timur.
Ketua Komda Pemuda Katolik NTT, Yuvensius Tukung, mengatakan kehadiran relawan Pemuda Katolik NTT merupakan bentuk solidaritas terhadap masyarakat Flores yang sedang menghadapi situasi sulit akibat bencana.
Menurutnya, para relawan datang bukan sekadar membawa bantuan, tetapi ingin ikut merasakan penderitaan masyarakat yang terdampak gempa, mulai dari wilayah Maumere hingga Manggarai Barat.
“Kami sebagai tim relawan yang datang dari Pulau Timor. Di dalamnya tergabung tenaga kesehatan jiwa, PKJI, kemudian ada juga Persatuan Ahli Farmasi Indonesia,” kata Yuvensius.
Ia menjelaskan, dalam situasi pascagempa, kebutuhan masyarakat memang sangat beragam. Bantuan berupa makanan, obat-obatan, pakaian, maupun kebutuhan dasar lainnya tetap penting. Namun, menurut dia, ada persoalan lain yang tidak kalah serius, yakni kondisi mental dan psikologis masyarakat.
Karena itu, relawan Pemuda Katolik NTT memberikan perhatian khusus terhadap dukungan kesehatan jiwa dan psikososial bagi para korban.
“Kalau bicara situasi begini, orang mungkin bicaranya logistik. Tetapi yang sesungguhnya paling berat itu adalah bagaimana membangkitkan semangat hidupnya, memulihkan traumanya, untuk kemudian dia sadar bahwa dia masih kuat,” ujarnya.
Bangkitkan Kembali Semangat Hidup Korban
Yuvensius mengatakan, gempa tidak hanya menyebabkan kerusakan rumah dan fasilitas umum, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat yang mengalami langsung bencana.
Sebagian warga harus kehilangan tempat tinggal, harta benda, bahkan anggota keluarga. Kondisi tersebut membutuhkan pendampingan agar masyarakat mampu melewati masa sulit dan kembali membangun kehidupan mereka.
Menurutnya, dukungan psikososial menjadi bagian penting dari proses pemulihan karena masyarakat membutuhkan ruang untuk mendapatkan pendampingan, mengungkapkan rasa takut dan kecemasan, sekaligus membangun kembali rasa percaya diri setelah mengalami bencana.
“Yang paling penting adalah bagaimana membangkitkan semangat hidup mereka, memulihkan traumanya, sehingga mereka sadar bahwa mereka masih kuat,” katanya.
Pemuda Katolik NTT, lanjutnya, akan terus berkonsentrasi memberikan dukungan kesehatan jiwa dan psikososial kepada masyarakat selama berada di wilayah terdampak.
Minta Perpus Tambah Tenaga Kesehatan
Selain memberikan pendampingan kepada masyarakat, Yuvensius juga meminta pemerintah pusat (Perpus) memberikan perhatian terhadap kondisi tenaga kesehatan yang saat ini bertugas di wilayah terdampak gempa.
Menurutnya, para tenaga kesehatan yang berada di daerah bencana juga merupakan bagian dari masyarakat yang terdampak. Mereka tetap harus memberikan pelayanan kepada korban, meskipun pada saat yang sama menghadapi tekanan dan beban akibat bencana.
Karena itu, dibutuhkan tambahan tenaga kesehatan dari luar daerah untuk membantu mengurangi beban tenaga kesehatan yang selama ini bekerja di lapangan.
“Dengan demikian kita minta kepada pemerintah pusat memberikan perhatian lebih. Yang dibutuhkan sekarang adalah pasokan tenaga nakes dari luar,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah pusat dapat segera memperkuat dukungan tenaga kesehatan di daerah terdampak sehingga pelayanan kepada korban dapat berjalan maksimal.
Solidaritas Lintas Daerah
Kegiatan kemanusiaan Pemuda Katolik NTT juga mendapat dukungan dari Pemuda Katolik Sulawesi Selatan.
Ketua Komda Pemuda Katolik Sulawesi Selatan, Erika Tansil, turut hadir bersama tenaga kesehatan dari RSJ Naimata, Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI), serta relawan Pemuda Katolik dari sejumlah wilayah di NTT.
Kehadiran mereka menjadi bentuk solidaritas lintas daerah untuk masyarakat Flores yang sedang menghadapi masa sulit pascagempa.
Yuvensius menegaskan, dukungan tersebut ingin menunjukkan kepada masyarakat terdampak bahwa mereka tidak menghadapi bencana seorang diri.
“Ini adalah duka bersama, penderitaan bersama dan masyarakat tidak sendiri. Semuanya tetap berjuang bersama,” ujarnya.
Sebanyak 65 relawan terlibat dalam kegiatan kemanusiaan tersebut. Mereka berasal dari Komcab Pemuda Katolik Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan (TTS), Malaka, serta unsur tenaga kesehatan dan organisasi profesi.
Selama berada di Manggarai Timur, para relawan melaporkan pelaksanaan berbagai kegiatan kemanusiaan, termasuk dukungan kesehatan dan pendampingan psikososial bagi masyarakat terdampak.






































