DAERAH

Penanganan Stunting di Kecamatan Ruteng Terkendala Pola Asuh dan Rendahnya Kesadaran Orang Tua

×

Penanganan Stunting di Kecamatan Ruteng Terkendala Pola Asuh dan Rendahnya Kesadaran Orang Tua

Sebarkan artikel ini
Foto: Kepala Puskesmas Cancar, Valeria Daima.

MANGGARAI, AntarNews.net- Upaya penanganan dan percepatan penurunan angka stunting di Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih menghadapi sejumlah tantangan.

Persoalan pola asuh anak, rendahnya pemahaman orang tua terhadap pemenuhan gizi, hingga keterbatasan sarana kesehatan menjadi kendala dalam pelaksanaan program pencegahan stunting di wilayah tersebut.

Meski jumlah kasus stunting menunjukkan tren penurunan berdasarkan hasil pengukuran berkala Puskesmas Cancar, berbagai persoalan mendasar di tingkat keluarga dan fasilitas pelayanan kesehatan masih membutuhkan perhatian serius.

Berdasarkan data Puskesmas Cancar, jumlah kasus stunting di Kecamatan Ruteng tercatat sebanyak 408 kasus pada Agustus 2025. Angka tersebut kemudian menurun menjadi 309 kasus pada Februari 2026 dan kembali tercatat sebanyak 210 kasus pada Agustus 2026.

Namun, penurunan jumlah kasus pada Agustus 2026 belum sepenuhnya menggambarkan kondisi sebenarnya. Pasalnya, sejumlah balita tidak mengikuti kegiatan pengukuran di Posyandu akibat situasi bencana gempa bumi yang melanda wilayah Manggarai.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi perkembangan penanganan stunting di Kecamatan Ruteng.

Kepala Puskesmas Cancar, Valeria Daima, mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam penanganan stunting adalah pola asuh anak dan rendahnya pemahaman orang tua mengenai pentingnya pemberian makanan bergizi seimbang.

Menurutnya, masih ditemukan keluarga yang memberikan makanan kepada anak hanya untuk memenuhi rasa kenyang tanpa memperhatikan kandungan nutrisi yang dibutuhkan dalam proses pertumbuhan.

“Kalau dari saya sebagai petugasnya, yang pertama itu mungkin pola asuh. Pemberian makanannya itu tidak sesuai dengan standar. Dikasih makan asal kenyang saja, tapi kandungan gizinya tidak diperhatikan,” ujar Valeria.

Ia menjelaskan, persoalan pemenuhan gizi anak mulai terlihat ketika balita memasuki masa pemberian makanan pendamping air susu ibu (MPASI).

Pada fase tersebut, anak membutuhkan asupan makanan dengan kandungan gizi yang cukup dan seimbang untuk mendukung pertumbuhan serta perkembangan tubuhnya.

Namun, keterbatasan pengetahuan orang tua mengenai jenis makanan, kandungan nutrisi, dan pola pemberian makan yang tepat masih menjadi tantangan dalam upaya pencegahan stunting.

Valeria menilai bahwa peningkatan pemahaman keluarga mengenai pentingnya gizi anak perlu terus diperkuat melalui edukasi dan pendampingan yang berkelanjutan.

Selain persoalan pola asuh, ia juga menyoroti pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi balita yang dinilai belum dapat dipastikan dampaknya secara langsung terhadap peningkatan berat badan anak.

Menurut Valeria, makanan yang diberikan melalui program tersebut umumnya dibawa pulang sehingga petugas kesehatan tidak dapat memastikan apakah makanan benar-benar dikonsumsi oleh balita penerima manfaat.

“Anak-anak itu mereka hanya datang mengambil saja MBG-nya, nanti dimakannya di rumah. Jadi kita tidak tahu apakah MBG-nya dimakan sama anaknya atau bagaimana,” jelasnya.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya keterlibatan orang tua dalam memastikan makanan bergizi yang diberikan melalui program pemerintah benar-benar dikonsumsi oleh anak.

Sementara itu, Desa Pong Murung menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam penanganan stunting di Kecamatan Ruteng.

Berdasarkan data pengukuran Februari 2026, desa tersebut mencatat sebanyak 100 kasus stunting, tertinggi di wilayah Kecamatan Ruteng pada periode tersebut.

Kepala Desa Pong Murung, Wilfridus Ahat, menjelaskan bahwa tingginya jumlah kasus stunting di wilayahnya juga berkaitan dengan jumlah penduduk yang relatif besar dibandingkan sejumlah desa lainnya.

Meski demikian, pemerintah desa bersama tenaga kesehatan dan kader Posyandu terus melakukan berbagai upaya untuk menekan jumlah kasus.

Wilfridus menyebutkan bahwa jumlah kasus stunting di Desa Pong Murung saat ini telah mengalami penurunan hingga berada di bawah 100 kasus.

Namun, ia mengakui bahwa penanganan stunting masih menghadapi tantangan, terutama berkaitan dengan kesadaran dan pemahaman orang tua terhadap kesehatan serta tumbuh kembang anak.

“Pertama kurang kesadaran. Lalu pemahaman terhadap masalah stunting dari orang tua yang bersangkutan masih sangat rendah. Artinya, penanganan internal keluarganya itu masih tergantung ke orang tertentu, misalnya menjadi urusan laki-laki atau suami saja,” ungkap Wilfridus.

Menurutnya, penanganan stunting tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah desa, tenaga kesehatan, maupun salah satu anggota keluarga.

Sebaliknya, diperlukan keterlibatan seluruh anggota keluarga, khususnya orang tua, dalam memastikan kebutuhan gizi dan kesehatan anak terpenuhi secara optimal.

Ia menilai bahwa perubahan pola pikir masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan program percepatan penurunan stunting.

Selain persoalan kesadaran masyarakat, Wilfridus juga menyoroti keterbatasan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan di tingkat desa.

Menurutnya, sejumlah fasilitas kesehatan, khususnya Posyandu dan Polindes, masih menghadapi kendala terkait ketersediaan serta kondisi alat pengukuran pertumbuhan balita.

Alat timbang maupun alat ukur yang mengalami kerusakan berpotensi memengaruhi ketepatan hasil pengukuran.

“Faktor lain adalah kurangnya sarana prasarana kesehatan, terutama berkaitan dengan kebutuhan yang ada di Posyandu. Di situ kan kadang alatnya rusak, lalu kadang ada alatnya tidak ada. Misalnya alat timbang, ada kalanya karena alatnya error, maka berlakulah perkiraan,” jelas Wilfridus.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pengukuran berat badan dan tinggi atau panjang badan anak merupakan bagian penting dalam pemantauan pertumbuhan serta identifikasi risiko gangguan gizi.

Penggunaan alat yang tidak berfungsi dengan baik dapat memengaruhi keakuratan data yang menjadi dasar penentuan langkah penanganan.

Karena itu, ketersediaan alat antropometri yang memenuhi standar kesehatan menjadi salah satu kebutuhan penting dalam mendukung pelayanan Posyandu.

Wilfridus menegaskan bahwa pemerintah desa bersama tenaga kesehatan dan kader Posyandu telah berulang kali melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pencegahan stunting.

Sosialisasi tersebut dilakukan untuk meningkatkan pemahaman orang tua mengenai pola asuh, pemenuhan gizi, serta pentingnya pemeriksaan pertumbuhan anak secara rutin.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, Puskesmas Cancar terus mengoptimalkan sejumlah program intervensi kesehatan untuk mencegah munculnya kasus stunting baru sekaligus menangani anak-anak yang mengalami gangguan pertumbuhan.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) kepada remaja putri dan ibu hamil sebagai bagian dari upaya pencegahan anemia dan pemenuhan kebutuhan zat besi.

Selain itu, Puskesmas Cancar juga melaksanakan program pemberian makanan tambahan bagi balita dengan masalah gizi, termasuk balita gizi kurang dan gizi buruk.

Intervensi lainnya dilakukan melalui pemberian obat cacing sesuai ketentuan pelayanan kesehatan serta pemantauan pertumbuhan balita secara berkala.

Berbagai program tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan status gizi anak sekaligus memperkuat upaya pencegahan stunting sejak dini.

Valeria Daima menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor, terutama antara tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader Posyandu, dan masyarakat.

Menurutnya, keberhasilan penanganan stunting tidak hanya bergantung pada pelaksanaan program kesehatan, tetapi juga membutuhkan komitmen keluarga dalam menerapkan pola asuh dan pemenuhan gizi yang tepat.

Puskesmas Cancar menargetkan prevalensi stunting di wilayah kerjanya dapat ditekan hingga berada di bawah 15 persen.

<