MANGGARAI TIMUR, AntarNews.net- Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (PPO) Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus berupaya memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung meskipun ratusan sekolah mengalami kerusakan akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026 lalu.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah memperjuangkan pembangunan Ruang Kelas Darurat (RKD) melalui pengajuan bantuan kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Upaya tersebut dilakukan sebagai bagian dari langkah pemulihan sektor pendidikan, sekaligus menjamin peserta didik tetap memperoleh layanan pendidikan yang layak dan aman di tengah kondisi bangunan sekolah yang belum sepenuhnya pulih.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas PPO Kabupaten Manggarai Timur, Marselinus Enggu, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengambil sejumlah langkah awal untuk mengatasi keterbatasan fasilitas pembelajaran di sekolah-sekolah terdampak gempa.
Salah satunya dengan menyediakan terpal yang digunakan sebagai tempat belajar sementara bagi peserta didik.
Menurut Marselinus, setiap sekolah mendapatkan delapan buah terpal untuk mendukung pelaksanaan kegiatan belajar mengajar selama masa penanganan dampak bencana.
Meski demikian, penggunaan terpal sebagai ruang belajar sementara dinilai belum menjadi solusi jangka panjang, terutama menghadapi perubahan kondisi cuaca dan datangnya musim hujan.
Karena itu, Dinas PPO Manggarai Timur mengajukan permohonan bantuan pembangunan ruang kelas darurat kepada pemerintah pusat melalui Kemendikdasmen.
Langkah tersebut diharapkan dapat menghadirkan fasilitas pembelajaran sementara yang lebih memadai, sehingga guru dan peserta didik tidak harus terus bergantung pada ruang belajar berbahan terpal.
445 Sekolah Rusak Akibat Gempa
Marselinus menjelaskan, berdasarkan pendataan Dinas PPO Manggarai Timur, sebanyak 445 satuan pendidikan dilaporkan mengalami kerusakan akibat gempa bumi.
Jumlah tersebut terdiri atas 56 Taman Kanak-Kanak (TK), 263 Sekolah Dasar (SD), dan 126 Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Besarnya jumlah sekolah terdampak menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah dalam memastikan keberlangsungan proses pendidikan pascabencana.
Kerusakan fasilitas pendidikan tidak hanya berdampak pada ketersediaan ruang belajar, tetapi juga menuntut adanya langkah penanganan yang cepat agar kegiatan pembelajaran tidak terganggu berkepanjangan.
Di tengah kondisi tersebut, penyediaan ruang kelas darurat menjadi salah satu kebutuhan mendesak yang terus diperjuangkan Dinas PPO Manggarai Timur.
Pemerintah daerah berharap adanya dukungan dari pemerintah pusat maupun lembaga kemanusiaan dapat mempercepat penyediaan fasilitas belajar sementara bagi sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan.
Antisipasi Musim Hujan
Pengajuan pembangunan ruang kelas darurat juga mempertimbangkan kondisi cuaca, khususnya kemungkinan meningkatnya curah hujan dalam beberapa waktu mendatang.
Pasalnya, penggunaan terpal sebagai tempat belajar sementara memiliki sejumlah keterbatasan, terutama dalam memberikan perlindungan terhadap hujan dan angin.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinas PPO Manggarai Timur agar kegiatan belajar mengajar tetap dapat berlangsung dengan aman dan nyaman.
Melalui pembangunan ruang kelas darurat, sekolah-sekolah terdampak diharapkan memiliki fasilitas sementara yang lebih kokoh dan mampu menunjang aktivitas pembelajaran selama proses rehabilitasi bangunan berlangsung.
Wahana Visi Indonesia Siap Berikan Dukungan
Selain mengajukan bantuan kepada Kemendikdasmen, Dinas PPO Manggarai Timur juga mengupayakan dukungan dari lembaga kemanusiaan.
Salah satu lembaga yang disebut akan membantu pembangunan ruang kelas darurat adalah Wahana Visi Indonesia (WVI).
Marselinus menjelaskan, bantuan yang direncanakan melalui WVI berupa pembangunan dua unit ruang kelas darurat untuk setiap sekolah, sesuai kebutuhan dan usulan yang diajukan masing-masing satuan pendidikan.
Adapun ruang kelas darurat tersebut direncanakan memiliki ukuran 4 x 10 meter.
Kendati demikian, realisasi bantuan tetap mengikuti mekanisme dan ketentuan yang ditetapkan oleh lembaga pemberi bantuan.
Dalam hal ini, Dinas PPO Manggarai Timur berperan mengajukan usulan berdasarkan kebutuhan sekolah-sekolah yang terdampak gempa.
Dukungan tersebut diharapkan dapat mempercepat tersedianya ruang belajar sementara yang lebih layak bagi peserta didik.
Perhatikan Pemulihan Guru dan Peserta Didik
Tidak hanya berfokus pada pemulihan sarana dan prasarana pendidikan, Dinas PPO Manggarai Timur juga memberikan perhatian terhadap kondisi guru dan peserta didik setelah mengalami bencana gempa bumi.
Untuk mendukung upaya tersebut, Dinas PPO menjalin kerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kabupaten Manggarai Timur serta ChildFund.
Kerja sama ini diarahkan untuk mendukung proses pemulihan pascabencana, khususnya bagi guru dan peserta didik yang terdampak.
Pemulihan sektor pendidikan dinilai tidak cukup hanya melalui perbaikan bangunan sekolah, tetapi juga perlu memperhatikan kondisi psikologis dan kesiapan warga sekolah untuk kembali menjalankan aktivitas pembelajaran.
Karena itu, keterlibatan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam mempercepat pemulihan layanan pendidikan di Manggarai Timur.
Pendidikan Harus Tetap Berjalan
Di tengah berbagai keterbatasan akibat bencana, Dinas PPO Manggarai Timur terus mengupayakan agar hak peserta didik untuk memperoleh pendidikan tetap terpenuhi.
Penyediaan terpal, pengajuan bantuan ruang kelas darurat kepada Kemendikdasmen, serta rencana dukungan pembangunan fasilitas belajar dari WVI menjadi bagian dari langkah penanganan yang dilakukan secara bertahap.
Upaya tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pemulihan sektor pendidikan menjadi salah satu kebutuhan penting dalam penanganan dampak gempa bumi di Manggarai Timur.
Dengan jumlah sekolah terdampak mencapai 445 satuan pendidikan, dukungan pemerintah pusat dan berbagai lembaga kemanusiaan sangat dibutuhkan untuk mempercepat pemulihan fasilitas pembelajaran.
Dinas PPO Manggarai Timur berharap pengajuan pembangunan ruang kelas darurat dapat segera memperoleh tindak lanjut, sehingga para guru dan peserta didik memiliki tempat belajar sementara yang lebih aman dan layak.
Sembari menunggu proses rehabilitasi dan pembangunan kembali sekolah-sekolah yang rusak, keberadaan ruang kelas darurat diharapkan menjadi solusi untuk menjaga keberlangsungan pendidikan bagi anak-anak di Kabupaten Manggarai Timur.






































