DAERAH

PLTP Ulumbu Beroperasi 13 Tahun, Warga Akui Tak Ada Dampak Negatif

×

PLTP Ulumbu Beroperasi 13 Tahun, Warga Akui Tak Ada Dampak Negatif

Sebarkan artikel ini

MANGGARAI, AntarNews.net-Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulumbu di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), telah beroperasi selama 13 tahun dan menjadi bukti bahwa pengembangan energi panas bumi dapat berjalan aman serta memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Sejak mulai beroperasi, PT PLN (Persero) melalui PLTP Ulumbu menghadirkan pasokan listrik yang lebih andal bagi sistem kelistrikan Flores.

Di tengah upaya pemerintah mendorong transisi energi bersih, keberadaan pembangkit ini dinilai strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Dalam dialog bersama warga Desa Wewo, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menanyakan langsung apakah selama lebih dari satu dekade operasional PLTP Ulumbu terdapat dampak negatif terhadap pertanian, kesehatan, maupun ternak warga.

Jawaban masyarakat tegas: tidak ada dampak buruk yang mereka rasakan. Justru, warga mengaku menikmati manfaat listrik yang semakin stabil dibanding sebelumnya.

“Kalau ada dampak, pasti kami yang pertama merasakan. Tapi selama ini tidak ada masalah,” ungkap salah satu warga dalam pertemuan tersebut.

Kesaksian ini sekaligus menjawab sejumlah kekhawatiran yang kerap muncul terkait isu geothermal, seperti pencemaran air tanah, emisi gas berbahaya, hingga potensi gempa bumi.

Geothermal Bukan Pertambangan
Sejumlah akademisi menegaskan bahwa panas bumi bukan aktivitas pertambangan yang mengeruk sumber daya terbatas.

Geothermal memanfaatkan panas alami bumi yang terbarukan. Manifestasi seperti uap, lumpur panas, atau bau belerang merupakan gejala alami aktivitas bawah permukaan bumi.

Dengan pengelolaan dan teknologi yang tepat, potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara aman dan berkelanjutan.

Indonesia sendiri menggunakan sistem hydrothermal, di mana panas dan air sudah tersedia secara alami di bawah permukaan.

Proses pengeboran dilakukan dengan standar keselamatan tinggi serta teknologi modern untuk meminimalkan risiko.

Berdasarkan data PLN, pemanfaatan geothermal di Flores baru mencapai sekitar 18 MW dari total potensi sekitar 377 MW.

Pemerintah pusat bahkan telah menetapkan Flores sebagai ikon “Flores Geothermal Island” sejak 2017.

Saat ini, sistem kelistrikan Flores memiliki kapasitas terpasang sekitar 114 MW dengan beban puncak 99,14 MW.

Namun sekitar 85 persen bauran energinya masih didominasi pembangkit berbasis fosil.

Kondisi ini mendorong percepatan pengembangan energi baru terbarukan, termasuk panas bumi.

PLTP menjadi solusi unggulan karena mampu menyediakan listrik stabil tanpa bergantung pada cuaca, sekaligus memiliki emisi karbon jauh lebih rendah dibanding pembangkit diesel maupun batu bara.

Komitmen Transparansi dan Teknologi Terbaik

Gubernur Melki menegaskan, proyek geothermal yang telah berjalan baik akan terus dilanjutkan, sementara yang masih menghadapi kendala akan diperbaiki dengan mengedepankan aspirasi masyarakat.

Transparansi data lingkungan, pelibatan masyarakat adat, serta pendekatan berbasis kearifan lokal menjadi prinsip utama.

Ia juga meminta PLN memastikan penggunaan teknologi terbaik dalam setiap proses pengeboran dan pengembangan agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.

Di balik uap panas bumi yang mengepul dari perut Flores, tersimpan harapan besar akan kemandirian energi dan masa depan yang lebih hijau.

“Dengan kolaborasi pemerintah, PLN, akademisi, dan masyarakat, Flores berada di jalur menuju transformasi energi bersih yang berkelanjutan,” ujar General Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara, Rizki Aftarianto.

Keberhasilan PLTP Ulumbu selama 13 tahun menjadi fondasi kuat bahwa energi panas bumi dapat berjalan selaras dengan lingkungan dan kehidupan warga.***

</p