DAERAH

Pulihkan Rasa Aman, Diskominfo Manggarai Gelar Trauma Healing Anak Pascagempa

×

Pulihkan Rasa Aman, Diskominfo Manggarai Gelar Trauma Healing Anak Pascagempa

Sebarkan artikel ini

MANGGARAI, AntarNews.net — Tawa dan keceriaan anak-anak kembali terdengar di Sekolah Dasar Inpres (SDI) Wase Wengke, Desa Beo Rahong, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Rabu (23/9/2026).

Suasana tersebut hadir dalam kegiatan trauma healing yang dilaksanakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Manggarai bagi anak-anak sekolah yang terdampak situasi pascagempa bumi Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Manggarai pada 15 Agustus 2026.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendukung pemulihan psikososial anak-anak setelah mengalami situasi bencana. Melalui permainan, interaksi, musik, nyanyian dan gerakan bersama, anak-anak diberikan ruang untuk kembali bermain, berekspresi dan membangun rasa nyaman di lingkungan sekolah.

Kegiatan trauma healing dipandu oleh Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (KIP) Diskominfo Kabupaten Manggarai, Valens Onggot, S.Fil. Dari 78 siswa/siswi yang hadir, sebanyak 65 siswa/siswi mengikuti rangkaian kegiatan secara aktif.

Dengan pendekatan yang ringan dan menyenangkan, Valens mengajak para siswa untuk bergembira melalui permainan dan interaksi bersama. Sesekali, ia melemparkan pertanyaan sederhana yang memacu siswa untuk berpikir cepat.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan hanya menghidupkan suasana, tetapi juga mendorong anak-anak untuk berani menjawab, berkomunikasi dan menunjukkan kemampuan mereka di hadapan teman-temannya.

Suasana semakin hidup ketika anak-anak mulai terlibat dalam permainan. Senyum dan tawa muncul di tengah kegiatan. Anak-anak yang sebelumnya berada dalam suasana pascabencana diberikan kesempatan untuk sejenak melepaskan ketegangan dan menikmati kebersamaan.

Cerita Gempa dengan Bahasa Anak

Selanjutnya, Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Manggarai, Mikael Ojang, turut mengambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Tidak mau kalah dalam mencairkan suasana, Mikael mengajak para siswa berinteraksi sambil berbagi cerita mengenai gempa bumi dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami anak-anak, ia mengajak siswa memahami bahwa gempa bumi merupakan peristiwa alam yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Karena itu, anak-anak juga perlu mengetahui langkah-langkah sederhana untuk melindungi diri ketika gempa terjadi.

Cerita tersebut disampaikan dalam suasana santai dan interaktif. Para siswa diberi kesempatan untuk merespons, menjawab pertanyaan dan menceritakan kembali pengalaman mereka saat merasakan gempa.

Interaksi ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan pengalaman mereka. Dengan bercerita dan didengarkan, anak-anak memperoleh kesempatan untuk memahami kembali pengalaman yang telah mereka lalui dalam suasana yang lebih aman dan menyenangkan.

Bernyanyi dan Bergoyang, Keceriaan Kembali Hadir

Sementara itu, Kepala Bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), Matilda Herlina Irma, Kepala Bidang Persandian, Vonny Jemada bersama Tim Diskominfo lainnya mengambil bagian dalam menciptakan suasana yang lebih rileks dan menyenangkan bagi para siswa.

Melalui gerakan-gerakan sederhana, tepuk tangan dan nyanyian bersama, keduanya mengajak anak-anak melepaskan ketegangan serta menikmati kembali suasana kebersamaan.

Suasana semakin hangat ketika tim Diskominfo mengeluarkan gitar yang sengaja dibawa untuk mendukung kegiatan trauma healing. Petikan gitar mengiringi anak-anak bernyanyi bersama.

Perlahan, suasana berubah menjadi lebih meriah. Suara nyanyian, tepuk tangan dan tawa anak-anak memenuhi ruang kegiatan. Sebagian siswa mengikuti lagu sambil tersenyum, sementara yang lain tampak antusias mengikuti gerakan yang dicontohkan oleh tim.

Anak-anak kemudian diajak bergerak dan bergoyang bersama mengikuti panduan tim. Tanpa sekat antara siswa dan pendamping, mereka bergerak bersama, saling menyemangati dan menikmati setiap momen.

Tawa dan keceriaan pun mewarnai kegiatan. Bagi anak-anak, aktivitas sederhana tersebut menjadi ruang untuk bermain, berekspresi dan berinteraksi kembali dengan teman-teman dalam suasana yang aman dan positif.

Memulihkan Rasa Aman

Kegiatan trauma healing tersebut tidak sekadar dimaksudkan untuk menghibur anak-anak. Lebih dari itu, kegiatan menjadi bagian dari pemulihan psikososial anak pascabencana.

Melalui permainan, musik, komunikasi dan aktivitas bersama, anak-anak diberikan ruang untuk mengekspresikan diri, membangun kembali rasa percaya diri dan merasakan pengalaman positif setelah menghadapi situasi gempa bumi.

Di tengah kondisi pascagempa yang masih menyisakan kekhawatiran, kehadiran orang dewasa yang mengajak anak bermain, bernyanyi dan tertawa bersama menjadi pesan bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi situasi tersebut.

Senyum dan keberanian anak-anak untuk ikut bernyanyi, menjawab pertanyaan, bermain dan bergerak bersama menjadi warna tersendiri dalam kegiatan itu.

Trauma healing bukan sekadar membuat anak tertawa. Lebih dari itu, trauma healing adalah menghadirkan kembali rasa aman, ruang untuk berekspresi dan keyakinan bahwa setelah melewati masa sulit, anak-anak dapat kembali bermain, belajar dan menatap hari esok dengan penuh harapan.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari semangat “PULIH BERSAMA, PULIH LEBIH CEPAT” dalam proses pemulihan masyarakat Kabupaten Manggarai pascagempa bumi.

<