MANGGARAI, AntarNews.net- Konvenda XI Persekutuan Karismatik Katolik (PKK) Indonesia di Ruteng terus menggaungkan pentingnya kesetiaan kepada Yesus Kristus, Ekaristi, dan Gereja Katolik melalui rangkaian pendalaman iman, pembinaan kepemimpinan Kristiani, Kebangunan Rohani Katolik (KRK), hingga Adorasi Sakramen Mahakudus yang diikuti ribuan umat.
Memasuki hari kedua pelaksanaan Konvensi Nasional Daerah (Konvenda) XI Badan Pelayanan Provinsi Gerejawi (BPPG) Ende PKK Indonesia, para peserta mengikuti berbagai sesi pembinaan yang meneguhkan identitas Gerakan Karismatik Katolik sebagai bagian utuh dari Gereja Katolik.
Pada sesi utama bertajuk “Gerakan Karismatik Katolik Nasional”, Uskup Sibolga, Mgr. Fransiskus Tuaman Sasfo Sinaga, menegaskan bahwa Persekutuan Karismatik Katolik dipanggil untuk terus bertumbuh dalam kesetiaan kepada Kristus dan Gereja-Nya.
“Sukacita Pembaharuan Karismatik yang senantiasa baru adalah sukacita yang dibagikan,” tegasnya.
Ia mengajak seluruh anggota PKK semakin mencintai Yesus Kristus melalui kebiasaan membaca, merenungkan, dan menghidupi Kitab Suci dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, kehidupan Karismatik harus berpusat pada Ekaristi sebagai sumber dan puncak kehidupan Gereja. Karena itu, umat Karismatik dipanggil hidup dari sakramen-sakramen Gereja.
“Karunia Roh Kudus yang diterima bukan untuk membangun diri sendiri, tetapi untuk membangun seluruh Gereja. Karena itu hiduplah selalu dalam kasih,” pesannya.
Mgr. Fransiskus juga menegaskan bahwa Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) mengakui Persekutuan Karismatik Katolik sebagai bagian dari kehidupan Gereja yang dipanggil bertumbuh dalam persekutuan, pelayanan, dan kesetiaan terhadap ajaran Gereja.
Materi berikutnya disampaikan Ketua Badan Pelayanan Persekutuan Karismatik Katolik Indonesia, Albertus Budi Sutedjo, dengan tema “Pemimpin Melayani dengan Sukacita”.
Berlandaskan Yohanes 14 dan Yohanes 15, ia menjelaskan bahwa kepemimpinan Kristiani bertumpu pada tiga pilar, yakni tinggal di dalam Kristus, tetap bersatu dengan Kristus, dan tinggal di dalam kasih-Nya.
Menurutnya, seorang pemimpin Karismatik harus mampu menjaga keseimbangan antara kehidupan doa, pelayanan, dan kesetiaan kepada Gereja, serta waspada terhadap dosa melawan Roh Kudus agar tidak kehilangan arah dalam pelayanan.
Pembinaan kepemimpinan dilanjutkan oleh Moderator Badan Pelayanan Nasional PKK Indonesia, Rm. Yustinus Hilman Pujiatmoko, melalui materi “Pemimpin yang Melahirkan Persahabatan”.
Mengutip Yohanes 15:15, ia menegaskan bahwa seorang pemimpin pertama-tama harus bersatu dengan Kristus, terutama melalui Ekaristi.
“Hadir dalam Konvenda ini adalah bentuk membalas kasih Kristus,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa pemimpin dipanggil menjadi garam dunia, pembawa damai, tidak mengejar kepentingan pribadi, tidak mudah menghakimi sesama, mampu mengampuni, serta tidak memelihara sakit hati.
Sementara itu, Rm. Wanto dari Keuskupan Denpasar menyampaikan materi “Maria sebagai Penyalur Rahmat”.
Ia menegaskan bahwa umat Katolik dipanggil mencintai Bunda Maria karena melalui Maria umat semakin dekat kepada Kristus.
“Orang yang mencintai Maria akan selalu memperoleh rahmat Allah,” katanya.
Menurutnya, Kristus adalah sumber segala rahmat, sedangkan Maria merupakan penyalur rahmat yang senantiasa menghantar umat kepada Putra-Nya. Karena itu, Gerakan Karismatik Katolik tidak boleh melupakan devosi kepada Bunda Maria, sebab penghormatan kepada Maria selalu mengantar umat semakin mencintai Yesus Kristus dan hidup setia dalam Gereja.
Memasuki malam hari, semangat Konvenda berlanjut melalui Kebangunan Rohani Katolik (KRK) di Alun-alun Natas Labar, Motang Rua, Ruteng. Peserta Konvenda bersama ribuan umat memadati lokasi untuk mengikuti malam pujian, pewartaan, doa penyembuhan, dan Adorasi Sakramen Mahakudus.
Suasana ibadah semakin hidup melalui puji-pujian yang dipandu BCCR Worship dari Jakarta, tim pujian nasional PKK Indonesia.
Dalam sambutannya, Mgr. Fransiskus kembali mengajak seluruh peserta mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus.
“Dengan demikian kita seperti murid-murid yang menuju Emaus, hati kita berbunga-bunga. Yang sedang susah dan gundah gulana, datanglah kepada Yesus,” ajaknya.
Pewartaan Firman Tuhan disampaikan Benyamin Ratu dari Keuskupan Agung Jakarta yang mengangkat Injil Markus bab 5 tentang Yesus membangkitkan anak Yairus dan menyembuhkan perempuan yang menderita pendarahan.
Ia menegaskan bahwa kuasa Yesus tetap bekerja hingga saat ini.
“Hari ini kita memang tidak melihat Yesus secara fisik, tetapi mukjizat-Nya masih ada. Kuasa-Nya tidak pernah berubah. Saya tidak bisa menyembuhkan siapa pun, tetapi saya berdoa agar Tuhan Yesus sendiri yang menyembuhkan,” katanya.
Setelah doa penyembuhan, sejumlah peserta memberikan kesaksian mengalami pemulihan dan penguatan iman.
Rangkaian KRK kemudian mencapai puncaknya dalam Adorasi Sakramen Mahakudus yang dipimpin Rm. Ompi Latu. Dalam suasana hening dan penuh khidmat, ribuan umat berlutut di hadapan Sakramen Mahakudus, memuji dan menyembah Kristus yang hadir dalam Ekaristi.
Momen adorasi menjadi penutup yang mendalam bagi hari kedua Konvenda XI PKK Indonesia sekaligus menegaskan pesan utama seluruh rangkaian kegiatan, yakni kehidupan Karismatik harus selalu berakar pada Yesus Kristus, bertumbuh dalam Ekaristi, setia kepada Gereja Katolik, serta hidup dalam bimbingan Roh Kudus dan devosi kepada Bunda Maria.





































