DAERAH

Cegah Lonjakan DBD, Puskesmas Kota Ruteng Siapkan Inovasi Circle Emas

×

Cegah Lonjakan DBD, Puskesmas Kota Ruteng Siapkan Inovasi Circle Emas

Sebarkan artikel ini
Foto: Ilustrasi

MANGGARAI, AntarNews.net- Puskesmas Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyiapkan inovasi pelayanan kesehatan bertajuk Circle Emas atau Siaran Keliling Edukasi Masyarakat sebagai langkah strategis mencegah lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).

Inovasi ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya DBD sekaligus memperkuat upaya pencegahan melalui edukasi langsung ke lingkungan warga.

Langkah tersebut dilakukan menyusul tren penurunan kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas Kota Ruteng dalam tiga tahun terakhir.

Berdasarkan data Puskesmas Kota Ruteng, jumlah kasus DBD pada 2024 mencapai 90 kasus. Angka tersebut menurun menjadi 34 kasus pada 2025 dan kembali turun drastis menjadi tiga kasus sepanjang Januari hingga Oktober 2026.

Penanggung Jawab (Pj.) DBD Puskesmas Kota Ruteng, Rini, mengatakan penurunan tersebut merupakan perkembangan positif dalam upaya pengendalian penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.

“Dari tahun 2024 untuk wilayah kerja Puskesmas Kota ada 90 kasus. Terus untuk tahun 2025 menurun jadi 34 kasus, dan tahun 2026 ini dari Januari sampai Oktober kasusnya ada tiga,” ungkapnya

Meski angka kasus mengalami penurunan signifikan, pihak puskesmas tidak ingin masyarakat lengah. Terlebih, saat ini memasuki masa peralihan dari musim kemarau menuju musim penghujan yang berpotensi meningkatkan perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD.

Kepala Puskesmas Kota Ruteng, drg. Margaretha Irmana Baung, menjelaskan bahwa salah satu strategi yang disiapkan adalah inovasi Circle Emas.

Melalui inovasi tersebut, petugas kesehatan akan melakukan edukasi secara keliling dengan memanfaatkan data kasus DBD pada tahun-tahun sebelumnya sebagai dasar menentukan waktu pelaksanaan sosialisasi.

Dengan demikian, edukasi kepada masyarakat dapat dilakukan lebih awal sebelum memasuki periode yang berpotensi mengalami peningkatan kasus.

“Dari Puskesmas Kota itu juga ada program, kami sedang merangkum dalam satu inovasi namanya Circle Emas, Siaran Keliling Edukasi Masyarakat. Kita melihat dari data grafik tahun sebelumnya, dia tingginya di bulan apa, maka bulan sebelumnya itu kami sudah melakukan edukasi masyarakat dengan keliling,” jelasnya

Selain inovasi Circle Emas, Puskesmas Kota Ruteng juga terus mengintensifkan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan Sabtu Bersih di setiap kelurahan.

Edukasi mengenai penerapan 3M Plus juga terus dilakukan melalui petugas promosi kesehatan di berbagai posyandu.

Gerakan 3M Plus meliputi menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penyimpanan air, serta mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Sementara itu, langkah plus dilakukan dengan berbagai upaya tambahan, seperti menggunakan kelambu, memasang kawat kasa, serta menggunakan losion antinyamuk untuk menghindari gigitan nyamuk.

Pihak puskesmas berharap keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam mempertahankan tren penurunan kasus DBD.

Sementara itu, upaya pengendalian DBD juga terus dilakukan Puskesmas Lao yang membawahi delapan kelurahan di wilayah Kabupaten Manggarai.

Pengelola Bidang DBD Puskesmas Lao, Novi Selan, mengungkapkan bahwa jumlah kasus DBD di wilayah kerjanya mengalami penurunan cukup drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Novi, pada 2024 jumlah kasus DBD mencapai sekitar 40 hingga 50 kasus. Jumlah tersebut kemudian mengalami penurunan pada 2025 dan tersisa empat kasus sejak Januari hingga periode pelaporan pada 2026.

“Tahun yang lebih banyak itu 2024 sekitar 40-an atau 50-an kasus. Tapi 2025 semakin berkurang kasusnya, masuk di 2026 ini hanya empat kasus dari Januari sampai saat ini,” ujarnya

Ia menjelaskan, setiap kali menerima laporan kasus DBD dari rumah sakit melalui Dinas Kesehatan, petugas puskesmas langsung melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) di lokasi tempat tinggal pasien.

Penyelidikan tersebut meliputi pemeriksaan kondisi rumah pasien, pemantauan lingkungan sekitar, serta pemeriksaan keberadaan jentik nyamuk.

Terkait permintaan masyarakat untuk melakukan pengasapan atau fogging, Novi menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak bisa dilakukan secara sembarangan.

Fogging harus melalui tahapan pemeriksaan dan mempertimbangkan kondisi lingkungan serta keberadaan jentik dan jumlah kasus di wilayah tersebut.

“Fogging ini tidak bisa kita bilang langsung fogging, bertahap dia. Kalau dilihat jentiknya ada, dilihat kasusnya banyak, itu baru kami melakukan fogging,” tegasnya.

Ia menjelaskan, penerapan prosedur tersebut penting agar penanganan DBD berjalan tepat sasaran dan tidak menimbulkan dampak yang tidak diinginkan bagi masyarakat maupun lingkungan.

Dengan berbagai langkah pencegahan, mulai dari penyelidikan epidemiologi, gerakan PSN, edukasi 3M Plus hingga inovasi Circle Emas, Puskesmas Kota Ruteng berharap tren penurunan kasus DBD dapat terus dipertahankan.

Pihak puskesmas juga mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan petugas kesehatan dalam memberantas DBD, tetapi menjadikan kebersihan lingkungan sebagai tanggung jawab bersama.

Kewaspadaan masyarakat, terutama dalam menghilangkan tempat perkembangbiakan nyamuk saat musim hujan, menjadi kunci penting untuk mencegah munculnya kembali lonjakan kasus DBD di wilayah Ruteng.

<