MANGGARAI, AntarNews.net- Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di Kabupaten Manggarai tetap berjalan di tengah masa tanggap darurat gempa bumi Flores magnitudo 7,7. Untuk menjaga keselamatan peserta didik sekaligus memastikan hak anak atas pendidikan tetap terpenuhi, seluruh satuan pendidikan memindahkan kegiatan pembelajaran ke Ruang Kelas Darurat (RKD).
Masa tanggap darurat gempa bumi Flores di Kabupaten Manggarai diperpanjang mulai 29 Agustus hingga 12 September 2026. Ancaman gempa susulan membuat pemerintah bersama pihak sekolah mengambil langkah untuk melaksanakan pembelajaran di ruang darurat yang dinilai lebih aman.
Di tengah kondisi masyarakat yang juga terdampak bencana, semangat gotong royong justru terlihat dalam pembangunan RKD.
Warga bersama pihak sekolah berkolaborasi membangun ruang belajar dengan memanfaatkan material lokal. Bahkan, sejumlah warga secara sukarela menyumbangkan bahan bangunan untuk mendukung keberlangsungan pendidikan.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (PPO) Kabupaten Manggarai, Wenslaus Sedan, mengapresiasi kolaborasi masyarakat dan satuan pendidikan tersebut.
“Atas nama pemerintah, Dinas PPO Kabupaten Manggarai mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Manggarai yang telah berkolaborasi dengan semua satuan pendidikan dalam rangka mewujudkan ruang kelas darurat,” ujar Wenslaus, Senin (31/8/2026).
Wenslaus menjelaskan, kebutuhan ruang kelas darurat di Kabupaten Manggarai dapat dihitung dengan dua pendekatan.
Jika berdasarkan jumlah ruang kelas yang mengalami kerusakan, Kabupaten Manggarai membutuhkan sedikitnya 858 ruang kelas darurat.
“Jika pendekatannya adalah kerusakan, maka Kabupaten Manggarai membutuhkan 858 ruang kelas darurat,” ungkapnya.
Namun, apabila kebutuhan RKD dihitung berdasarkan jumlah sekolah dan peserta didik, jumlahnya jauh lebih besar.
Wenslaus menyebut total peserta didik mulai dari jenjang PAUD, pendidikan kesetaraan, SD hingga SMP mencapai 69.905 anak, dengan jumlah ruang kelas eksisting sebanyak 3.656 ruang.
“Maka mestinya RKD sejumlah 3.000 sekian. Kenapa? Karena sejak tanggal 15 Agustus Manggarai dilanda bencana gempa magnitudo 7,7, secara psikologi, semua siswa di Kabupaten Manggarai sudah terdampak,” jelasnya.
Untuk mempercepat penyediaan ruang belajar, Dinas PPO Kabupaten Manggarai telah menggelar rapat teknis bersama para pengawas. Mereka diminta mendampingi seluruh satuan pendidikan agar segera membangun RKD menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh di daerah.
Material seperti kayu, bambu dan terpal menjadi pilihan untuk membangun ruang belajar sementara.
“Karena ini keadaan darurat, keadaan kahar, maka silakan dibebankan pada Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Kami tentu tidak menutup kemungkinan dan sangat mengharapkan kontribusi dari berbagai pihak untuk kebutuhan pembentukan kelas darurat ini,” katanya.
Secara regulatif, pembelajaran di ruang kelas darurat dijadwalkan mulai 2 September 2026. Namun, sejumlah sekolah yang telah menyelesaikan pembangunan RKD sudah mulai melaksanakan kegiatan belajar mengajar sejak Senin, 31 Agustus 2026.
Ruang belajar tersebut dibangun di halaman sekolah maupun lokasi lain yang dinilai layak berdasarkan kesepakatan bersama orang tua murid.
Menurut Wenslaus, kondisi darurat tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan pelayanan pendidikan kepada anak-anak.
“Kata kuncinya adalah apapun situasinya, hak konstitusional anak untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran itu adalah kewajiban kita semua untuk tetap memberikan pelayanan,” tegasnya.
Tidak hanya peserta didik, dampak gempa juga dirasakan oleh tenaga pendidik. Sebanyak 464 guru di Kabupaten Manggarai tercatat sebagai korban terdampak gempa.
Wenslaus menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang telah memberikan perhatian kepada guru terdampak melalui bantuan family kit dan parcel.
Bantuan tersebut diharapkan dapat menjaga motivasi para guru agar tetap memberikan pelayanan pendidikan secara maksimal meskipun mereka sendiri turut menjadi korban bencana.
Selain itu, Kemendikdasmen sebelumnya telah menyalurkan 25 unit RKD standar. Sebanyak 20 unit di antaranya menjadi kewenangan Kabupaten Manggarai dan telah didistribusikan kepada sekolah-sekolah yang ruang kelasnya mengalami kerusakan total dan tidak dapat digunakan lagi.
Ruang kelas yang rusak berat dinilai berpotensi membahayakan keselamatan peserta didik apabila terjadi gempa susulan.
“Kami berharap ke depan ada bantuan lanjutan, karena tenda darurat yang dibuat dengan bahan lokal ini tentu umurnya tidak begitu panjang,” harap Wenslaus.
Dinas PPO Kabupaten Manggarai juga membuka ruang bagi berbagai pihak yang ingin membantu pemulihan sektor pendidikan pascagempa.
Menurut Wenslaus, penyediaan ruang belajar yang aman dan layak merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, pemerintah daerah sangat terbuka terhadap dukungan dari berbagai lembaga, organisasi, perguruan tinggi maupun pihak lainnya.
“Mewujudkan pendidikan yang baik tentu tanggung jawab bersama. Jadi siapapun yang punya atensi, punya keprihatinan dengan situasi ini, tentu kami sangat terbuka dengan siapa saja yang mau memberikan bantuan kepada sekolah-sekolah kami,” ujarnya.
Ia mengakui masih terdapat kesenjangan yang cukup besar antara kebutuhan dan bantuan RKD yang tersedia.
Dari total 3.656 ruang kelas eksisting yang menjadi kebutuhan ruang belajar dalam kondisi darurat, bantuan Kemendikdasmen yang baru terdistribusi sebanyak 20 unit masih jauh dari mencukupi.
Selain sarana fisik, pemulihan psikologis peserta didik juga menjadi perhatian serius.
Wenslaus mengatakan, jika dihitung mulai dari jenjang PAUD hingga SLTA, terdapat sekitar 90 ribu siswa di Kabupaten Manggarai yang membutuhkan perhatian terhadap kondisi psikologis pascagempa.
“Begitu ngomong tentang gempa saja, itu sudah langsung mengganggu psikologi mereka. Karena itu saya mengetuk hati siapapun yang berkompetensi dalam hal ini, apalagi pihak universitas, kalau berkenan bantulah untuk membangkitkan kembali semangat para generasi penerus bangsa di kabupaten kami,” katanya.
Ia berharap dukungan program trauma healing dapat membantu anak-anak secara perlahan keluar dari ketakutan dan tekanan psikologis akibat bencana.
“Supaya trauma-trauma karena gempa ini lambat laun bisa hilang dan mereka bisa kembali seperti semula,” tutupnya.






































