DAERAH

Pulihkan Trauma Anak Korban Gempa, Pemkab Manggarai Siapkan 9 Posko SAPA

×

Pulihkan Trauma Anak Korban Gempa, Pemkab Manggarai Siapkan 9 Posko SAPA

Sebarkan artikel ini
Oplus_16908288

MANGGARAI, AntarNews.net- Pemerintah Kabupaten Manggarai melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) terus memperkuat upaya pemulihan psikologis anak-anak yang terdampak gempa bumi.

Hingga Senin, 21 September 2026, sebanyak 1.533 anak di Kabupaten Manggarai telah mendapatkan layanan trauma healing yang dilaksanakan di berbagai posko pengungsian maupun fasilitas umum.

​Kepala Dinas P3A Kabupaten Manggarai, Maria Yasinta Aso, menjelaskan bahwa keberhasilan pencapaian ini tidak lepas dari sinergi kuat bersama berbagai mitra yang tergabung dalam satuan Gugus Tugas Kabupaten Layak Anak (KLA) Kluster V.

​”Sudah banyak kegiatan trauma healing bekerja sama dengan lembaga mitra di setiap posko bencana, baik di posko komunal maupun posko mandiri,” ungkapnya

​Adapun unsur yang terlibat dalam Kluster V ini meliputi Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, serta sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) seperti Ayo Indonesia, Plan, dan Wahana Visi Indonesia.

Melalui jejaring lintas sektor tersebut, kegiatan pemulihan ini disebar ke posko-posko pengungsian, paroki-paroki, hingga sekolah-sekolah terdampak.

​Dalam praktiknya, metode pendekatan disesuaikan secara cermat berdasarkan kelompok usia anak. Khusus untuk anak-anak usia PAUD dan Sekolah Dasar (SD), relawan dan petugas lebih banyak mengajak mereka bermain menggunakan alat edukatif serta permainan tradisional, sekaligus mendengarkan cerita-cerita keseharian mereka.

​Dari interaksi tersebut, terungkap bahwa sebagian besar anak merasa mengalami trauma mendalam selama gempa bumi terjadi.

Menyikapi temuan ini, Dinas P3A langsung bergerak melakukan identifikasi agar anak-anak yang menunjukkan gejala trauma berat bisa segera mendapatkan pendampingan khusus dari psikolog.

​Meski telah menjangkau ribuan anak, Maria Yasinta Aso tidak memungkiri adanya tantangan keterbatasan sumber daya dalam memenuhi seluruh permintaan kunjungan ke sekolah-sekolah lain.

Sebagai solusi jangka panjang, Dinas P3A telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan untuk melatih para guru, mulai dari tingkat PAUD hingga SLTA agar mandiri dalam memberikan trauma healing kepada para peserta didiknya.

Langkah serupa juga disarankan kepada Dinas Kesehatan agar melatih para tenaga kesehatan (nakes) untuk mendampingi para ibu di posyandu maupun fasilitas layanan kesehatan lainnya.

​Tidak berhenti sampai di situ, Dinas P3A kini juga tengah merancang langkah strategis dengan membentuk posko Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA). Posko ini rencananya akan dibangun di 9 titik yang tersebar di 6 kecamatan terdampak gempa bumi.

​Keberadaan posko SAPA nantinya akan diisi oleh petugas terlatih guna memastikan tidak ada kasus kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat pasca-bencana, khususnya di lingkungan posko terpadu maupun posko mandiri. Selain itu, posko ini juga difungsikan untuk mendata berbagai kebutuhan penting pascagempa.

​”Mungkin ada akta kelahiran, KTP, Kartu Keluarga yang hilang atau berada di bawah reruntuhan bangunan. Di posko SAPA ini kita akan berkolaborasi dengan lintas sektor, seperti Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil atau Dinas Kesehatan,” pungkasnya.

<