NASIONAL

Dukung Kemandirian Energi Listrik, Gubernur NTT Dorong Pembangunan Panas Bumi Poco Leok dan Wae Sano

×

Dukung Kemandirian Energi Listrik, Gubernur NTT Dorong Pembangunan Panas Bumi Poco Leok dan Wae Sano

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, AntarNews – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, terus mendorong pengembangan potensi energi bersih panas bumi di Poco Leok kabupaten Manggarai dan Wae Sano kabupaten Manggarai.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Melki, dalam Forum Dialog Nusantara XXII, yang membahas Keadilan dalam Transisi Energi Menuju Indonesia Emas 2045, di Jakarta.

“NTT punya potensi energi terbarukan yang besar. Tetapi energi harus hadir andal, terjangkau, dan memberi manfaat nyata,” jelas Gubernur Melki.

Dalam forum ini, Ia menyebut, pemenuhan kebutuhan listrik menjadi kebutuhan dasar bagi masyarakat yang tinggalnya di wilayah kepulauan di provinsi NTT, yang berdampak pada peningkatan kualitas Pendidikan, pelayanan Kesehatan serta mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui UMKM.

“Bagi masyarakat pulau-pulau kecil (NTT), ukurannya sederhana: listrik menyala, anak bisa belajar, puskesmas bisa menyimpan obat, dan UMKM bisa bekerja dengan biaya yang terjangkau,” sebutnya.

Dalam pengembangan potensi energi panas bumi, kata Melki, harus membawa dampak positif yang berimbang pada aspek kualitas layanan.

“Transisi energi harus memperbaiki kualitas layanan listrik,” ungkap Gubernur Melki.

Pengembangan panas bumi di Flores, sebutnya harus berjalan dengan menghormati masyarakat, tanah, air, dan ruang hidup mereka.

Menurut Gubernur Melki, dalam pengembangan transisi energi di NTT, harus disesuaikan dengan potensi dan karakteristik lokal di setiap daerah agar efektif dan tepat sasaran.

“NTT adalah provinsi kepulauan. Tidak mungkin satu resep energi cocok untuk semua pulau. Kita membutuhkan solusi yang sesuai dengan karakter Flores, Sumba, Timor, Alor, Rote, dan pulau-pulau kecil lainnya,” tambahnya.

Terkait rencana pengembangan potensi panas bumi Poco Leok dan Wae Sano, ia menyebut membutuhkan kegiatan sosialisasi yang berkelanjutan dan intens kepada masyarakat.

“Khusus untuk panas bumi di Poco Leok dan Wae Sano, saya percaya satu hal, kepercayaan tidak lahir dari satu kali sosialisasi,” ungkapnya.

Ia juga menyebut, pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pengembangan potensi panas bumi untuk menjawab kekhawatiran masyarakat serta memastikan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar rencana pembangunan.

“Warga harus didengar sejak awal. Data harus terbuka. Persoalan tanah dan hak masyarakat harus jelas. Dampak terhadap air dan lingkungan harus dapat dipantau. Dan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar harus nyata,” jelasnya.

Transisi energi juga harus membuka peluang baru bagi NTT mulai dari usaha tenun, pertanian, perikanan, pariwisata, penyediaan air, hingga tumbuhnya tenaga kerja dan teknisi lokal.

“Jadi, bagi saya, pertanyaannya bukan hanya berapa megawatt energi terbarukan yang bisa kita bangun. Pertanyaan yang lebih penting: Setelah energi itu hadir, apa yang berubah dalam kehidupan rakyat?,” pungkasnya.

NTT kata Gubernur Melki, siap menjadi bagian dari transisi energi Indonesia. Bukan hanya sebagai tempat sumber energinya berada, tetapi sebagai daerah yang ikut merasakan manfaatnya.

“Itulah ukuran keadilan energi yang ingin terus kami perjuangkan dari NTT menuju Indonesia Emas 2045,” terangnya.

<