MANGGARAI TIMUR, AntarNews.net- Jalur strategis Pantura Trans Flores jurusan Pota-Riung di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), putus total akibat diterjang banjir yang terjadi di Kali Namerempa, Kampung Nangalok, Desa Golo Lijun, Kecamatan Elar.
Peristiwa tersebut dipicu curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah itu sejak kemarin hingga hari ini.
Pantauan di lokasi kejadian menunjukkan badan jalan aspal ambruk dan terputus sepanjang kurang lebih lima meter.
Akibatnya, akses transportasi yang menghubungkan wilayah Pota dan Riung lumpuh total sehingga kendaraan tidak dapat melintas.
Warga setempat menilai kerusakan tersebut bukan semata akibat tingginya curah hujan, tetapi juga karena pembangunan infrastruktur jalan yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi alam di lokasi tersebut.
Mereka mengkritik penggunaan plat deker pada aliran Kali Namerempa yang dianggap tidak mampu menahan debit banjir saat musim hujan.
“Sebenarnya pemerintah tidak boleh menggunakan plat deker saja. Seharusnya lokasi ini dibangun jembatan mini karena kali ini setiap tahun selalu banjir,” ujar salah satu warga Kampung Nangalok.
Menurut warga, mereka sebelumnya sudah menyampaikan masukan kepada pihak pelaksana proyek, termasuk konsultan dan pengawas pekerjaan jalan, agar dibangun jembatan yang lebih memadai.
Namun, aspirasi tersebut disebut tidak mendapat perhatian serius.
“Kami sudah pernah sampaikan saat pekerjaan jalan berlangsung. Kami tahu persis kondisi banjir di kali ini karena hampir setiap tahun terjadi, bahkan bisa dua sampai empat kali dalam setahun tergantung curah hujan. Tapi masukan kami tidak direspons,” lanjutnya.
Warga juga menilai beberapa plat deker yang dibangun di kawasan tersebut tidak berfungsi maksimal dan justru terkesan mubazir.
Mereka berharap pemerintah daerah, provinsi, hingga pemerintah pusat segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pembangunan infrastruktur di jalur Pantura Flores.
Putusnya jalur Pota-Riung dinilai berdampak besar terhadap aktivitas ekonomi masyarakat karena jalan tersebut merupakan salah satu akses utama distribusi barang dan mobilitas warga di wilayah Flores Utara.
“Kami minta pemerintah lebih serius menangani jalur ini karena ini adalah akses jantung ekonomi masyarakat. Jangan sampai setiap musim hujan jalan selalu putus dan masyarakat terus dirugikan,” tegas warga.
Hingga kini, jalur Pantura Trans Flores Pota-Riung masih belum bisa dilalui kendaraan.
Warga berharap adanya penanganan darurat dan pembangunan infrastruktur yang lebih kuat agar kejadian serupa tidak terus berulang setiap tahun.


















