DAERAH

Dari Ulubelu hingga Atadei, Harapan Lama Warga Flores pada Energi Panas Bumi

×

Dari Ulubelu hingga Atadei, Harapan Lama Warga Flores pada Energi Panas Bumi

Sebarkan artikel ini

MANGGARAI, AntarNews.net- Fenomena lumpur panas yang muncul dari dalam tanah bukanlah hal asing bagi Emirensia Wawo, warga Desa Ulubelu, Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada.

Sejak era 1950-an, manifestasi alam itu telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat.

Namun, baru beberapa waktu terakhir ia memahami bahwa uap dan lumpur panas tersebut menyimpan potensi besar sebagai sumber listrik melalui energi panas bumi.

Pemahaman itu diperoleh setelah tim PT PLN (Persero) melakukan sosialisasi terkait pemanfaatan geothermal sebagai pembangkit listrik.

Bagi Emirensia dan warga lainnya, informasi tersebut membuka perspektif baru: bahwa gejala alam yang selama ini dianggap biasa, ternyata merupakan aset energi masa depan.

Harapan Serupa di Atadei

Cerita yang sama juga datang dari masyarakat Atadei, Kabupaten Lembata.

Selama lebih dari dua dekade, warga setempat mendambakan agar potensi panas bumi di wilayah mereka bisa dikembangkan untuk menghadirkan listrik yang stabil dan mendorong kemajuan daerah.

Kini, harapan itu semakin nyata seiring komitmen pemerintah dan PLN dalam mempercepat pengembangan energi baru terbarukan di Pulau Flores.

Geothermal, Energi Bersih yang Berkelanjutan

Secara ilmiah, geothermal adalah energi terbarukan yang berasal dari panas alami bumi.

Energi ini tersimpan dalam batuan dan fluida bawah tanah akibat proses geologi jutaan tahun, dan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Ahli geothermal dari Institut Teknologi Bandung, Ali Ashat, menyebut potensi geothermal di Flores menjadi pilihan utama dalam transisi energi dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) menuju Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang lebih murah dan ramah lingkungan.

Menurutnya, melalui PLTP, ketergantungan pada bahan bakar fosil dapat ditekan sehingga subsidi energi bisa dialihkan untuk sektor pembangunan lain yang lebih produktif.

Senada dengan itu, akademisi dari Universitas Gadjah Mada, Pri Utami, menegaskan bahwa geothermal bukanlah aktivitas pertambangan.

“Geothermal memanfaatkan panas bumi yang terbarukan, bukan mengeruk sumber daya terbatas. Manifestasi seperti uap, lumpur panas, atau bau belerang adalah gejala alami aktivitas bawah permukaan bumi dan perlu dikelola dengan baik agar tetap aman,” jelasnya.

Flores Geothermal Island

Pemerintah pusat telah menetapkan Flores sebagai ikon “Flores Geothermal Island” sejak 2017.

Berdasarkan data PLN, pemanfaatan geothermal di Flores saat ini baru mencapai sekitar 18 MW dari total potensi sekitar 377 MW.

Padahal, sistem kelistrikan Flores memiliki kapasitas terpasang 114 MW dengan beban puncak 99,14 MW.

Sekitar 85 persen bauran energi masih berasal dari pembangkit berbasis fosil, termasuk impor batu bara dan solar B35 setiap tahun.

Pengembangan PLTP dinilai sebagai solusi strategis karena mampu menyediakan listrik stabil tanpa bergantung pada cuaca, sekaligus menghasilkan emisi karbon jauh lebih rendah dibanding pembangkit fosil.

Beberapa wilayah kerja panas bumi (WKP) yang tengah dikembangkan antara lain Ulumbu di Manggarai, Atadei di Lembata, Oka Ile Ange di Flores Timur, serta Wae Sano di Manggarai Barat.

Dukungan Pemerintah dan Masyarakat

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menyatakan dukungan penuh terhadap pengembangan geothermal dengan prinsip transparansi dan keterlibatan masyarakat.

Pemerintah Provinsi NTT bahkan membentuk satuan tugas di sejumlah wilayah kerja panas bumi guna memastikan proses berjalan akuntabel dan sesuai aspirasi warga.

PLTP Ulumbu yang telah beroperasi selama 13 tahun menjadi contoh konkret bahwa pengembangan panas bumi dapat berjalan selaras dengan lingkungan.

Dalam dialog bersama warga Desa Wewo, masyarakat menyatakan tidak pernah merasakan dampak negatif terhadap pertanian, kesehatan, maupun ternak mereka.

Menuju Kemandirian Energi Flores

Keberhasilan PLTP Lahendong di Sulawesi Utara dengan kapasitas 120 MW menjadi inspirasi.

Pembangkit tersebut menyuplai listrik ke lebih dari 133.000 rumah dan berkontribusi pada penghematan devisa serta pertumbuhan ekonomi lokal.

Pulau Flores dinilai memiliki peluang besar meniru keberhasilan tersebut.

Dengan memanfaatkan energi domestik yang ramah lingkungan, Flores dapat menekan impor BBM, menciptakan lapangan kerja hijau, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Di balik uap panas bumi yang mengepul dari perut Flores, tersimpan harapan panjang masyarakat – dari Ulubelu hingga Atadei – akan kemandirian energi dan masa depan yang lebih hijau.

“Dengan kolaborasi pemerintah, PLN, akademisi, dan masyarakat, Flores berada di jalur menuju transformasi energi bersih yang berkelanjutan,” ujar General Manager PLN Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara, Rizki Aftarianto.***

MUKA LU.. TUKANG COPASS