Antarnews.net – Proyek rehabilitasi/peningkatan jaringan irigasi di Pota, Kecamatan Sambi Rampas, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) belum tuntas dikerjakan. Proyek tersebut memasuki masa waktu tahun anggaran 2026.
Informasi yang diperoleh antarnews.net, proyek rehabilasi jaringan irigasi tersebut bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senilai Rp.102.000.000.000, dikerjakan oleh CV Delta Flores selaku Sub Kontraktor dan PT Adi Karya selaku Kontraktor Pelaksana sekaligus Pemenang Tender.
Jaringan irigasi yang sedang dikerjakan itu berpusat di Wae Mbaling, Tiwu Sengi dan berfungsi untuk menormalisasi aliran air ke para petani di tiga wilayah, yakni petani Desa Nanga Mbaling, Desa Nanga Mbaur dan Kelurahan Pota.
Masa kontrak proyek tersebut sebenarnya sudah berakhir pada tanggal 28 Desember 2025, namun karena keterlambatan dalam proses pengerjaan, proyek tersebut mendapat adendum waktu selama 50 hari
Saat ini progres pengerjaan baru mencapai kurang lebih 84 persen dan akan finsih di tanggal 10 Februari 2026.
Petani Mengeluh Lambat Tanam*
Akibat lambatnya progres pengerjaan, sejumlah petani di wilayah itu mengeluh.
Keterlambatan tersebut rupanya berpengaruh pada masa waktu tanam dan persemaian.
Selain itu, suplai air dari irigasi juga berkurang lantaran proyeknya masih sedang dikerjakan.
“Tolong muat berita, ini proyek jaringan irigasi wae mbaling dana miliaran belum selesai-selesai juga, sekarang petani mau kerja sirim bibit dan kasih masuk air di sawah tetapi ribet sekali, air susah kami tidak bisa semai” ungkap Jaludin petani di Desa Nanga Mbaur beberapa waktu lalu.
Tak hanya itu, ia bilang proyek tersebut bukan malah menguntungkan petani tetapi bikin tambah rusak.
“Proyek ini hadir bikin rusak, terlalu lama selesai, petani tiga wilayah sampai tidak bisa kerja, pokoknya petani di Pota sampai arah Biting kesana itu hancur, lama-lama bisa mati kelaparan karena mau kerja sawah tidak bisa” tuturnya.
“Kerja saja belum sampai setengah, baru satu kilo lebih yang sudah. Kontraktor tidak beres ini” tuturnya lagi.
Jaludin juga menambahkan, masyarakat kadang susah mengakses informasi detail dari proyek itu, lantaran papan informasi dipasang pada tempat tersembunyi.
Lantas ia menduga kontraktor sedang menyembunyikan papan informasi agar jauh dari pantauan dan pengawasan langsung masyarakat.
Ketiadaan papan informasi proyek menurut dia, akan membuat pengawasan masyarakat menjadi lebih susah sehingga berpotensi menimbulkan masalah dalam pengawasan dan akuntabilitas pemilik proyek.
“Saya duga ada praktik yang tidak beres disana. Papan informasi tender tersembunyi, sub kontaktornya juga tidak ada di tempat dan jarang komunikasi. Saya chat dia tidak pernah balas, dasar kurang ajar betul. Ini perlu diusut apalagi dana besar” ungkapnya.
Ia berencana mengawal proyek tersebut sampai selesai pengerjaan dan masa pemeliharaannya supaya menjadi perhatian pihak penegak hukum.
Upaya Konfirmasi Sub Kontraktor
Antarnews.net mengkonfirmasi Deny, Direktur SV Delta Flores yang dipercayai oleh PT. Adi Karya sebagai Sub Kontraktor proyek rehabilitasi jaringan irigasi itu.
Mlalui pesan Whatsapp Deny mengajak bertemu untuk membahas proyek yang belum tuntas dikerjakan ini.
“Iya kaka, ketemu saja besok kaka” jawab Deny melalui pesan yang dikirim 23 Januari 2026 malam lalu.
Ajakan Deny untuk bertemu belum bisa diladeni karena sedang berada di Ruteng, Akhirnya upaya konfirmasi pun ditawari via pesan Whatsapp
Deny pun menerima tawaran itu dan mempersilahkan antarnews.net untuk mengkonfirmasinya langsung via pesan whatasapp atau telepon.
“Boleh kaka, via WA saja kaka” tulis Deny.
Setelah dikonfirmasi, Deny kembali menawarkan antarnews.net untuk berbicara langsung via telepon, namun karena alasan jaringan kurang bagus pembicaraan pada 23 Januari malam itu terhenti.
Malam itu pun Deny mengirim pesan Whatsapp ke antarnews.net sekaligus berjanji untuk memberikan klarifikasi terkait dugaan masyarakat dan petani di Sambi Rampas atas keterlambatan pengerjaan.
“Siap kaka, besok baru saya klarifikasi. Besok baru kita baku telpon, jaringan kurang bagus kaka” tulis Deny.
Keesokan harinya 24 Januari 2026, antarnews.net kembali menghubunginya beberapa kali melalui pesan Whatsapp dan telepon. Namun Deny tidak sekali pun merespon.
Belakangan ia beralasan sakit dan mengaku sedang berada di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat saat itu.
“Pagi kaka, maaf sakit dari kemarin. Nanti kita ketemu saja e, gereng fit cekoen weki kaka. Saya masih di Labuan Bajo” bunyi pesan balasan Deny yang baru dikirimnya pada keesokan hari tanggal 25 Januari.
Berlanjut ke Senin, 26 Januari 2026, antarnews.net kembali menghubungi Deny melalui sambungan telepon.
Dalam pembicaraan via telepon Deny menjelaskan bahwa proyek yang dikerjakan oleh CV nya itu merupakan proyek APBN yang tidak hanya berlokasi di Kecamatan Sambi Rampas tetapi tersebar di 21 Kabupaten Kota di NTT.
“Itu proyek tidak satu paket saja kaka tetapi banyak paket, tersebar di 21 Kabupaten Kota di NTT, nomenklaturnya rehabilitasi/peningkatan” kata Deny.
Meski demikian, ia tidak mengelak soal keterlambatan proses pengerjaan. Menurut dia, keterlambatan itu disebabkan karena cuaca kurang mendukung, hujan terus menerus datang sehingga mempengaruhi proses pengerjaan yang sudah berjalan.
“Cuaca tidak mendukung. Hujan terus di wilayah Sambi Rampas sehingga pengerjaannya lambat” ungkap Deny.
Selain itu, Deny juga beralasan proyek itu sudah mendapat persetujuan masyarakat dan Camat Sambi Rampas. Pelaksanaan pengerjaannya sampai 10 Februari, sesuai adendum waktu 50 hari kerja.
“Pak Camat dan masyarakat sudah sepakat kaka pekerjaan selesai paling lambat tanggal 10 Februari” ujarnya.
Saat ini, Deny mengkau pihaknya sedang mengejar waktu dengan meningkatkan intensitas pengerjaan agar cepat selesai.
Menambah tenaga kerja dan tenaga lembur malam salah satu upaya Deny untuk mempercepat proses pengerjaan agar bisa selesai tanggal 10 Februari 2026.
“Sekarang masih kerja kaka, kami usahakan supaya cepat selesai sehingga tenaga kerja kita tambah untuk lembur sampai malam hari” ujarnya.
Sementara itu terkait papan informasi, Deny tidak merespon pertanyaan antarnews.net. Ia berdalih, papan informasi ada di lokasi.
Antarnews sempat meminta ia mengirim bukti gambar papan informasi di lokasi. Namun, hingga berita ini diturunkan Deny tidak lagi merespon.























