DAERAH

Perkuat Desa Siaga Bencana, PLN UIP Nusra Gelar Simulasi Gempa, Tsunami, dan Banjir Rob

×

Perkuat Desa Siaga Bencana, PLN UIP Nusra Gelar Simulasi Gempa, Tsunami, dan Banjir Rob

Sebarkan artikel ini

KUPANG, AntarNews.net- PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat ketangguhan masyarakat di wilayah rawan bencana.

Melalui Unit Pelaksana Proyek (UPP) Nusra 3, PLN menggelar Sosialisasi, Gladi, dan Simulasi Bencana Gempa Bumi Berpotensi Tsunami serta Banjir Rob di Desa Tablolong, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, Rabu (28/1/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 28–29 Januari 2026, ini melibatkan aparat desa serta masyarakat Desa Tablolong dan Desa Lifuleo, dengan pusat kegiatan di Kantor Desa Tablolong.

Program tersebut merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN, sekaligus mendukung Program Desa Siaga Bencana di wilayah sekitar PLTU Timor-1 (2×50 MW).

Manager PLN UPP Nusra 3, Agung Triwibowo, mengatakan bahwa wilayah Nusa Tenggara Timur memiliki potensi risiko bencana yang cukup kompleks, mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir, hingga angin kencang.

Oleh karena itu, peningkatan kesiapsiagaan masyarakat menjadi aspek penting dalam upaya mitigasi risiko bencana.

“Kita tentu tidak menginginkan bencana terjadi. Namun jika hal itu terjadi, masyarakat harus siap. Dengan kesiapsiagaan, dampak bencana dapat diminimalkan dan risiko yang lebih besar dapat dihindari,” ujar Agung.

Ia menjelaskan, kegiatan sosialisasi dan simulasi ini merupakan hasil kolaborasi antara PLN dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang bertujuan membekali masyarakat dengan pemahaman serta keterampilan menghadapi situasi darurat secara tepat dan terstruktur.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada BPBD, pemerintah desa, serta seluruh masyarakat Tablolong dan Lifuleo yang telah mendukung penuh pelaksanaan kegiatan ini. Sinergi ini menjadi kunci dalam membangun desa yang tangguh terhadap bencana,” katanya.

Menurut Agung, program tersebut merupakan wujud nyata komitmen PLN dalam mendorong terbentuknya desa yang mandiri dan siap menghadapi bencana, tidak hanya melalui respons darurat, tetapi juga lewat upaya pencegahan dan edukasi berkelanjutan.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Provinsi NTT sekaligus Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Provinsi NTT, Samuel Halundaka.

Dalam sambutannya, Samuel menegaskan bahwa bencana merupakan realitas yang tidak dapat dihindari, sehingga peningkatan kapasitas dan kesiapsiagaan masyarakat harus dilakukan secara terus-menerus.

“Bencana tidak bisa kita elakkan. Oleh karena itu, persoalan kebencanaan tidak boleh dianggap biasa. Diperlukan peningkatan kapasitas masyarakat agar mampu menghadapi risiko dengan pendekatan yang tepat,” tegas Samuel.

Ia juga mengungkapkan bahwa wilayah Tablolong dan Lifuleo memiliki potensi gempa bumi yang dapat berimplikasi pada risiko tsunami, serta ancaman banjir rob akibat pertemuan pasang laut dengan curah hujan tinggi.

Kondisi tersebut memerlukan perhatian dan kesiapsiagaan yang serius dari seluruh pemangku kepentingan.

Selain kegiatan sosialisasi dan simulasi, PLN UPP Nusra 3 turut menyalurkan bantuan paket sembako dan perlengkapan kesiapsiagaan bencana kepada masyarakat sebagai bentuk kepedulian sosial dan dukungan nyata PLN bagi warga di sekitar wilayah proyek.

Apresiasi terhadap kegiatan tersebut disampaikan oleh warga Desa Lifuleo, Samnat Petrus Mada, yang menilai kehadiran PLN bersama BPBD dan Dompet Dhuafa memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Keberadaan PLTU Timor-1 membawa dampak positif bagi kami. Saat ini listrik sudah menyala 24 jam. Kami berharap kerja sama ini terus berlanjut, termasuk dalam penanganan banjir rob dan dukungan terhadap mata pencaharian masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, General Manager PLN UIP Nusa Tenggara, Rizki Aftarianto, menegaskan bahwa penguatan kapasitas masyarakat merupakan bagian penting dari pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan yang berkelanjutan, khususnya di wilayah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi seperti Nusa Tenggara Timur.

“PLN tidak hanya membangun infrastruktur ketenagalistrikan, tetapi juga membangun ketangguhan sosial masyarakat di sekitar proyek. Kesiapsiagaan menghadapi bencana merupakan bagian dari komitmen kami untuk memastikan keselamatan warga dan keberlanjutan pembangunan,” ujar Rizki.***

MUKA LU.. TUKANG COPASS