MANGGARAI, AntarNews- Panggung literasi di Kabupaten Manggarai kembali menggema melalui pelaksanaan Lomba Bertutur tingkat SD/MI yang diselenggarakan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Manggarai.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana efektif dalam membangun karakter siswa sejak usia dini.

Bertempat di Aula Kantor Bupati Manggarai pada Selasa, 31 Maret 2026, lomba ini diikuti oleh 50 siswa sekolah dasar dari berbagai wilayah.
Antusiasme tinggi terlihat sejak awal kegiatan, dengan dukungan ratusan penonton yang turut menyaksikan penampilan para peserta.
Dari total peserta, sebanyak 25 siswa terbaik berhasil melaju ke babak final.
Mereka tampil dengan penuh percaya diri, membawakan cerita rakyat Manggarai dengan gaya, ekspresi, dan penghayatan yang kuat, sehingga mampu memikat perhatian juri dan penonton.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Asisten Administrasi Umum, Marianus Yosef Jelamu.
Turut hadir Bunda Literasi Kabupaten Manggarai Ny. Meldyanti Hagur Marcelina Nabit, SP, Sekretaris Bapperida, serta Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas PPO.
Dalam sambutannya, Asisten Administrasi Umum menekankan bahwa di tengah arus digitalisasi, upaya menumbuhkan minat baca dan kecintaan terhadap budaya lokal menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab bersama.
“Lomba bertutur ini bukan sekadar perlombaan, tetapi menjadi bagian penting dalam menumbuhkan minat baca, kecintaan terhadap buku, serta pelestarian budaya melalui cerita rakyat. Selain itu, kegiatan ini juga melatih keberanian anak untuk tampil dan berbicara di depan umum,” ujarnya.
Melalui proses bertutur, siswa dilatih untuk memahami isi cerita, mengolah bahasa, serta menyampaikannya kembali dengan cara mereka sendiri.
Hal ini dinilai mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, serta membangun rasa percaya diri.
Bunda Literasi Manggarai, Ny. Meldyanti Hagur, memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini.
Ia menilai bahwa bertutur merupakan bagian penting dalam pembentukan karakter anak.
“Lewat bertutur, anak-anak belajar memahami, merasakan, dan menyampaikan kembali dengan cara yang bermakna. Ini bukan sekadar lomba, tetapi proses membangun generasi yang berpikir dan berempati,” ungkapnya.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Manggarai, Gabriel Posenti Aldino Tjangkoeng, menjelaskan bahwa kegiatan ini mengusung tema “Manggarai Bertutur, Menghidupkan Kisah, Menggerakan Generasi” sebagai bagian dari upaya memperkuat budaya literasi sekaligus menjaga kearifan lokal.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya gemar membaca, tetapi juga bangga dengan cerita-cerita daerahnya sendiri,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pelestarian Bahan Pustaka, Fransiska Hamput, menambahkan bahwa kegiatan ini didukung oleh Dana Alokasi Khusus Non Fisik Tahun Anggaran 2026.
Ia juga menyampaikan bahwa berbagai program literasi lainnya akan terus dilaksanakan untuk menjangkau lebih banyak kalangan.
Dari sisi penilaian, para juri menekankan bahwa bertutur merupakan keterampilan yang menyeluruh.
Juri Marselus Ungkang menyebut bahwa peserta dituntut tidak hanya mampu membaca, tetapi juga memahami, menghayati, serta menyampaikan cerita dengan ekspresi, intonasi, dan penguasaan panggung yang baik.
Juri lainnya, Jefrin Haryanto, menyoroti pentingnya pengalaman tampil dalam membangun kepercayaan diri anak.
Ia menilai bahwa kegiatan seperti ini menjadi ruang belajar yang efektif dalam mengelola emosi dan rasa gugup.
Sementara itu, Reta Janu menekankan pentingnya kebebasan berekspresi dalam bertutur.
Menurutnya, ketika anak tidak terpaku pada hafalan, cerita yang disampaikan akan terasa lebih hidup dan natural.
Sepanjang kegiatan, suasana lomba berlangsung hangat dan ramah anak.
Penyelenggaraan yang tertata baik serta dukungan penonton membuat para peserta tampil lebih lepas dan menikmati panggung sebagai ruang ekspresi.
Melalui lomba ini, cerita-cerita rakyat Manggarai kembali dihidupkan oleh generasi muda. Tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran nilai-nilai budaya dan karakter.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa literasi dapat dikembangkan secara kreatif dan menyenangkan.
Dari panggung sederhana ini, lahir harapan besar untuk mencetak generasi Manggarai yang cerdas, percaya diri, serta mencintai budaya lokalnya.
























