MANGGARAI, AntarNews.net- Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Manggarai menggelar dialog lintas agama dalam rangka memperingati Hari Persaudaraan Internasional, Rabu (4/2/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Asumpta Katedral Ruteng ini menjadi ruang refleksi dan penguatan nilai toleransi, persaudaraan, serta kepedulian terhadap alam semesta.
Bupati Manggarai, Herybertus Nabit, dalam sambutan yang dibacakan oleh Penjabat Sekretaris Daerah Manggarai, Lambertus Paput, menyampaikan keyakinannya bahwa Kabupaten Manggarai merupakan miniatur kerukunan dunia sekaligus laboratorium mini kebebasan beragama, tidak hanya di Indonesia tetapi juga dalam konteks global.
Menurut Hery Nabit, peringatan Hari Persaudaraan Internasional menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali identitas bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beradab, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, toleransi, dan persatuan di tengah keberagaman.
“Hari ini kita tidak hanya berkumpul untuk memperingati Hari Persaudaraan Internasional, tetapi kita hadir untuk meneguhkan kembali jati diri kita sebagai bangsa yang beradab,” ujar Hery Nabit.
Ia mengapresiasi FKUB Manggarai atas inisiatif menyelenggarakan dialog lintas agama tersebut.
Di tengah dunia yang kerap diwarnai polarisasi dan konflik berbasis identitas, forum ini dinilainya sebagai ruang dialog yang menyejukkan.
“Di tengah dunia yang sering terpolarisasi, pertemuan hari ini adalah sebuah oase dialog yang membuktikan bahwa Manggarai tetap menjadi mercusuar keteduhan di Indonesia,” katanya.
Dialog lintas agama tersebut mengusung tema “Ekologi-Iman dan Persaudaraan Semesta.” Tema ini, menurut Bupati Hery Nabit, mengingatkan semua pihak bahwa persaudaraan tidak hanya terbatas pada relasi antarmanusia, tetapi juga harus meluas hingga hubungan harmonis dengan alam semesta.
Indonesia, lanjutnya, dikenal sebagai bangsa yang majemuk dari segi etnis, budaya, dan agama.
Keragaman tersebut merupakan kekayaan yang harus dijaga dengan upaya serius dalam merawat persatuan dan kerukunan.
Kabupaten Manggarai disebutnya sebagai contoh nyata bagaimana keberagaman dapat tumbuh dan hidup berdampingan secara damai.
Hery Nabit menuturkan bahwa sejarah panjang masuknya agama Katolik di Manggarai sejak tahun 1912 tidak menutup ruang bagi agama lain untuk berkembang.
Hingga kini, sekitar 95 persen penduduk Manggarai memeluk agama Katolik, sementara umat Islam, Protestan, Hindu, dan Buddha juga hadir dan hidup berdampingan secara rukun dan saling menghormati.
“Melihat fakta ini, saya katakan dengan penuh keyakinan bahwa Manggarai adalah laboratorium mini bagi kebebasan beragama,” tegasnya.
Ia menjelaskan, posisi Manggarai sebagai miniatur kerukunan dunia diperkuat oleh sejumlah fondasi penting.
Pertama, komitmen terhadap moderasi beragama yang sejalan dengan kebijakan nasional sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2023.
Kedua, kuatnya tradisi inkulturasi, di mana agama dan adat istiadat berjalan seiring. Agama menjadi roh spiritual, sementara adat menjadi bingkai sosial yang menyatukan masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan.
Ketiga, harmoni nyata dalam kehidupan sosial. Praktik toleransi terlihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti keterlibatan remaja masjid dalam menjaga keamanan perayaan Misa Paskah dan pemuda Katolik yang membantu pengamanan saat Idulfitri.
Kolaborasi lintas iman tersebut juga tampak dalam berbagai festival budaya, termasuk Festival Golo Curu, di mana perbedaan melebur dalam kegembiraan bersama.
Dalam visi pembangunan Kabupaten Manggarai 2025–2029, pemerintah daerah berkomitmen membangun masyarakat yang bersih, sejahtera, berkelanjutan, dan berdaya saing.
Namun, menurut Hery Nabit, kerukunan sosial harus berjalan seiring dengan kerukunan terhadap alam.
Mengutip semangat Laudato Si’, Ia mengingatkan pentingnya merawat bumi sebagai rumah bersama.
Iman, kata dia, harus menjadi kekuatan moral dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Imanlah yang menjaga alam. Merawat lingkungan adalah bagian dari ibadah,” ujarnya.
Mengakhiri sambutannya,
Bupati Hery Nabit berharap dialog lintas agama yang digelar FKUB Manggarai dapat melahirkan gagasan-gagasan segar untuk semakin memperkokoh posisi Manggarai sebagai contoh kerukunan dan persaudaraan bagi daerah lain di Indonesia maupun dunia.
“Mari kita jaga miniatur kerukunan ini agar terus menjadi teladan, khususnya dalam menjaga kedaulatan manusia dan alam Manggarai,” pungkasnya.***






















